HARI KAMIS PUTIH

Dipublikasikan tanggal 09 April 2017

HARI KAMIS PUTIH

Memulai Trihari Suci Paskah

Pada misa petang hari Kamis Putih, umat beriman merayakan Perjamuan Tuhan, di mana dimulai Trihari Suci Paskah. Hari Kamis Putih memiliki beberapa keunikan liturgi:

  1. Pada hari ini dilarang semua misa tanpa jemaat. Para imam yang telah berkonselebrasi dalam Misa Krisma pada pagi hari, boleh berkonselebrasi dalam misa sore hari. Hal ini berlaku pula untuk umat, yang telah mengikuti misa pagi hari, boleh kembali mengikuti misa sore hari. Komuni kudus hanya dapat dibagikan kepada umat pada waktu misa, kecuali pelayanan komuni orang sakit dapat dilaksanakan kapan saja pada hari itu.
  2. Tabernakel harus kosong sama sekali. Dalam misa ini dikonsekrasikan hosti yang cukup untuk komuni pada hari Kamis Putih dan Jumat Agung. Melalui tanda tabernakel yang kosong dan komuni dengan hosti yang dikonsekrasi pada hari itu, Gereja ingin menyampaikan, apa sesungguhnya yang ditetapkan oleh Yesus dalam perjamuan terakhir, ketika Dia memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada murid-murid-Nya sambil berkata, “Ambillah dan makanlah, inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu.
  3. Setelah perarakan masuk, misa dimulai seperti biasa. Sampai kepada Madah Kemuliaan, dibunyikan lonceng dan alat-alat logam, yang tidak dibunyikan lagi sampai Madah Kemuliaan dalam misa Malam Paskah. Bunyi gemerincing logam yang menandakan kemeriahan sukacita, digantikan dengan klotokan kayu. Tindakan liturgis ini melambangkan bahwa Gereja akan memasuki masa berkabungnya.
  4. Selepas homili (yang mengenai penetapan Ekaristi kudus, perintah Tuhan supaya kita saling mengasihi sebagai saudara, dan sakramen Imamat), dilanjutkan dengan ritus pembasuhan kaki, yang dilakukan kepada 12 laki-laki dewasa. Imam menanggalkan kasula, menghampiri para pria terpilih, dan dengan bantuan para pelayan, ia membasuh kaki mereka. Sementara itu dinyanyikan beberapa antifon atau nyanyian lain yang sesuai. Pembasuhan kaki menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Yesus, yang telah datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Tradisi membasuh kaki berawal dari Gereja Barat sejak abad keempat, di mana praktik membasuh kaki dilakukan pada ritus pembaptisan, agar umat tidak pernah melupakan bahwa menjadi umat Kristiani berarti menjadi pelayan seturut teladan Yesus. Kemudian tradisi ini dilaksanakan di biara-biara sebagai lambang penyambutan para tamu. Tindakan ini bersifat simbolis dan profetis, yang menegaskan hasrat Gereja seturut teladan Yesus untuk menjadi pelayanan sesama, terutama mereka yang miskin dan tersisihkan. Pembasuhan kaki dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dan bukan hanya bersandiwara belaka, dengan mencuci, menyeka, dan mencium kaki. Tindakan ini menyatakan kasih persaudaraan, pelayanan, dan perdamaian.
  5. Dalam misa Kamis Putih Syahadat ditiadakan, mengikuti tradisi kuno (Syahadat belum ditetapkan pada saat peristiwa yang diperingati terjadi). Syahadat yang dimaklumatkan oleh umat Katolik ditetapkan berdasarkan pengalaman komunitas-komunitas Kristiani pertama, setelah kebangkitan Yesus.
  6. Misa dilanjutkan seperti biasa sampai Doa sesudah Komuni. Ritus penutup dengan berkat dan pengutusan ditiadakan, dan digantikan dengan perarakan pemindahan Sakramen Mahakudus sampai ke tempat penyimpanan Sakramen Mahakudus. Sementara dinyanyikan lagu Pange Lingua, Imam dengan mengenakan velum, memindahkan Sakramen Mahakudus dalam perarakan yang khidmat, dengan lentera dan kepulan asap dupa. Setibanya di tempat penyimpanan, Imam berlutut dan mendupai Sakramen Mahakudus, kemudian menutup pintu Tabernakel. Setelah bersembah sujud sejenak dalam keheningan, imam dan para pelayan berlutut, lalu kembali ke sakristi.
  7. Umat membubarkan diri tanpa berkat dan pengutusan. Hal ini berarti bahwa umat tetap dalam penantian untuk turut serta pada perayaan paling penting dalam tahun liturgi: Sabtu Suci. Pada saat ini segala hiasan dan perlengkapan altar diambil. Jika mungkin salib-salib dikeluarkan dari gereja. Salib-salib yang tetap ada dalam gereja diselubungi. Kondisi altar seperti ini dibiarkan sampai Sabtu Suci. Ketika altar dilucuti, biasa didaraskan Mazmur 22, yang salah satu ayatnya berbunyi, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Tindakan liturgis itu hendak mengungkapkan, bahwa pada malam perjamuan terakhir Yesus mengosongkan diri, memberikan diri-Nya bagi kehidupan dunia. Tindakan liturgis itu pula hendak menyatakan, bahwa Gereja memasuki masa kedukaan dan perkabungannya yang mendalam karena mempelainya, Yesus Kristus akan menderita sengsara dan wafat di kayu salib.
  8. Dilarang menyalakan lilin di depan gambar Santa Perawan Maria dan orang kudus lainnya. Larangan ini berlaku mulai hari Kamis Putih sampai Sabtu Suci. Hal terpenting pada saat-saat ini bagi umat beriman adalah menemukan terang misteri Ekaristi. Gereja menganjurkan agar umat beriman melaksanakan sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus.

Perayaan Kamis Putih akan mengalir menuju perayaan wafat Tuhan, pada hari raya Jumat Agung dan mencapai puncaknya pada Malam Paskah, saat Gereja merayakan kebangkitan Tuhan. Kamis Putih, Jumat Suci dan Malam Paskah atau Trihari Suci Paskah merupakan satu kesatuan. 

Pembasuhan Kaki Menunjukkan Semangat Pelayanan dan Kasih Kristus