HARI JUMAT AGUNG

Dipublikasikan tanggal 10 April 2017

HARI JUMAT AGUNG

Mengenangkan Sengsara dan Wafat Tuhan

Pada hari Jumat Agung Gereja merayakan sengsara dan wafat Yesus Kristus di Golgota. Salib yang ditinggikan di atas tanah merupakan lambang keselamatan dan pengharapan. Melalui kisah sengsara Yesus menurut Injil Yohanes, umat merenungkan misteri Yang Tersalib, dengan hati murid yang dikasihi (Yohanes), hati Sang Bunda, dan hati prajurit yang menikam lambung-Nya.

Gelar-gelar Yesus dalam Injil Yohanes menyajikan sebuah Kristologi yang indah. Yesus adalah Raja, dan tentang hal ini ditulis di atas kayu salib (Yoh 19:19). Yesus adalah Imam Agung sekaligus Altar, dengan jubah satu tenunan tidak berjahit dari atas ke bawah, yang diundi oleh para prajurit untuk menentukan siapa yang mendapatnya (Yoh 19:23-24). Dialah Adam baru di samping ibu-Nya, Hawa Baru (Yoh 19:25). Dia adalah putra Maria dan mempelai Gereja. Dia haus kan Allah, dan pelaksana perjanjian dalam Kitab Suci (Yoh 19:28-30). Dia memberikan Roh (Yoh 15:16). Dia adalah Anak Domba yang tak bernoda, yang dikurbankan tanpa dipatahkan satu pun dari tulang-Nya (Yoh 1:29&36, 19:33). Dialah Yang Ditinggikan di kayu salib dan menarik semua orang datang kepada-Nya (Yoh 12:32), karena kasih-Nya, ketika manusia melihat dan percaya kepada-Nya (Yoh 6:44).

Bunda Maria ada di dekat salib Yesus. Santo Yohanes mencatat bahwa Maria mengikuti Yesus dengan hati keibuannya sejak dari Kana. Sekarang di dekat kayu salib, sebagai Bunda dan seorang murid, Maria menyaksikan semua yang dialami oleh Putranya. Kebundaannya membuka hati lebar-lebar untuk menerima pedang yang menembus jiwanya. Sabda Sang Putra memperluas kebundaannya sampai menggapai seluruh umat manusia. Santo Yohanes mencatat keibuan ini. Di saat-saat terakhir, Yesus memberikan kelegaan kepada umat manusia dengan kehadiran seorang bunda, “Ibu, inilah anakmu!” (Yoh 19:26)

Prajurit yang menikam lambung Kristus tidak pernah menyadari bahwa dia akhirnya menggenapi sebuah nubuat di saat terakhir. Dari lambung Yesus mengalir keluar darah dan air, darah penebusan dan air keselamatan. Darah adalah lambang kasih yang paling besar, nyawa yang diberikan kepada manusia, dan air adalah lambang Roh.

Seputar Liturgi Hari Jumat Agung

  1. Pada hari ini, sesuai dengan tradisi kuno, Gereja tidak merayakan Ekaristi, jadi tidak ada Doa Syukur Agung dalam perayaan ini. Komuni suci yang sudah dikonsekrasi pada hari Kamis Putih diterimakan kepada umat.
  2. Perayaan-perayaan sakramen pada hari ini dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan sakramen orang sakit.
  3. Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan pada siang menjelang jam 15.00 waktu setempat. Karena alasan pastoral boleh juga dilaksanakan tidak lama setelah jam 12.00, namun jangan sesudah jam 21.00. Waktu yang dipilih akan tampak paling sesuai untuk alasan pastoral, apabila memudahkan umat berkumpul. Jam dua belas dicatat dalam Injil Yohanes sebagai saat Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi untuk disalibkan (Yoh 19:14). Menurut kebiasaan Yahudi, anak domba Paskah baru sah apabila disembelih selepas tengah hari. Injil-injil Sinoptik mencatat bahwa Yesus wafat pada jam tiga sore, sedangkan kegelapan meliputi seluruh daerah tempat penyaliban Yesus mulai jam dua belas.
  4. Imam dan diakon, kalau ada, dengan mengenakan busana liturgi berwarna merah (warna martir), berarak ke altar dalam keheningan dan tanpa nyanyian. Setelah memberi hormat ke altar, mereka meniarap, atau kalau keadaan tidak memungkinkan, berlutut, dan berdoa sejenak dalam keheningan. Semua yang lain berlutut. Lalu Imam dan para pelayan menuju ke tempat duduk. Di situ Imam menghadap ke arah umat dan sambil merentangkan tangan mengucapkan Doa Pembuka. Tiarap merupakan simbol kefanaan manusia serta kesedihan dan penderitaan Gereja.
  5. Bacaan pertama dan kedua harus dibacakan seluruhnya,  sedangkan mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil dinyanyikan. Kisah Sengsara Yesus menurut Injil Yohanes dinyanyikan atau dibacakan oleh para petugas yang layak, tanpa iringan. Sesudah pembacaan Kisah Sengsara Yesus, Imam menyampaikan homili singkat dan pada akhir homili dia dapat mengundang umat beriman untuk berdoa dengan khusyuk.
  6. Doa umat meriah dengan sepuluh wujud doa, yang mendoakan keselamatan seluruh dunia (untuk Gereja kudus, Bapa Suci, para pejabat Gereja dan segala lapisan umat, para calon baptis, persatuan umat Kristiani, orang Yahudi, orang yang tidak percaya akan Kristus, orang yang tidak percaya akan Allah, para pemimpin negara, dan orang menderita). Hal ini melambangkan efek universal Sengsara Kristus, yang tergantung di kayu salib demi keselamatan semua orang. Jika dirasa perlu, uskup dapat mengijinkan untuk menambahkan wujud khusus yang menyangkut kepentingan umat.
  7. Penghormatan Salib Suci; hanya satu salib yang disediakan untuk dihormati demi mempertahankan kesejatian tanda. Namun bila ada alasan pastoral, masih dimungkinkan beberapa salib tambahan diberkati bersama salib utama dan pada penciuman salib ditempatkan pada titik-titik tempat umat menerima komuni. Pada saat penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia (keluh kesah Tuhan), dan madah yang mengingatkan keselamatan dalam bentuk lirik, serta nyanyian lain yang sesuai.
  8. Imam mengundang umat untuk menyanyikan Doa Bapa Kami. Salam damai ditiadakan, lalu dilanjutkan dengan komuni.
  9. Sesudah komuni, Imam mengucapkan doa sesudah komuni. Lalu, imam berdiri menghadap umat, dan sambil mengulurkan kedua belah tangan ke arah mereka, ia mengucapkan doa atau berkat untuk umat, tetapi bukan dengan tanda salib besar. Lalu dilanjutkan dengan perarakan keluar dalam keheningan. Tiadanya tanda salib besar ini karena Tuhan kita wafat, sehingga semua tanda-tanda yang menandakan kehadiranNya ditiadakan.
  10. Setelah ibadat selesai, altar dikosongkan kembali. Salib besar  yang dihormati tadi tetap di tempatnya didampingi empat lilin. Sesudah itu, umat meninggalkan gereja dalam keheningan, dengan terlebih dahulu berlutut ke arah salib.

Imam Menghormati Altar dengan Bertiarap, Simbol Kefanaan Manusia

Sumber: PERAYAAN PASKAH DAN PERSIAPANNYA (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis), Mengenai Surat Edaran Persiapan dan Perayaan Perayaan Paskah, Kongregasi Ibadah Ilahi, 16 Januari 1988