ANTARA YERUSALEM DAN EMAUS

Dipublikasikan tanggal 27 April 2017

ANTARA YERUSALEM DAN EMAUS

Mengulang Pertempuran di Dekat Emaus?

Pada abad II SM terjadi pertempuran antara bangsa Yahudi dan Wangsa Seleukia di dekat Emaus. Wangsa Seleukia dipimpin oleh Gorgias, sedangkan bangsa Yahudi dipimpin oleh Yudas Makabe. Pada mulanya bangsa Yahudi gentar menghadapi pasukan musuh  berjumlah lima ribu orang yang terlatih untuk berperang, belum lagi dikelilingi pasukan berkuda. Namun, sebelum berperang, Yudas meneguhkan para pengikutnya, “Jangan takut karena jumlah mereka yang besar itu dan jangan cemas terhadap serangan mereka! Ingatlah bagaimana nenek moyang kita diselamatkan di dekat Laut Merah ketika dikejar oleh Firaun dengan balantentaranya. Nah sekarang, baiklah kita berseru kepada Sorga, semoga Tuhan berkenan kepada kita dan ingat akan perjanjian dengan nenek moyang kita lalu pada hari ini juga mengempur bala yang di hadapan kita itu. Maka sekalian bangsa akan mengetahui bahwa ada Satu yang menebus dan menyelamatkan Israel.” (1 Mak 4:8-11)

Hari itu, tiga ribu orang pasukan musuh tewas. Yudas merampasi perkemahan mereka pula; dirampasinya banyak emas, perak, dan kain ungu serta kain merah lembayung dan kekayaan besar lainnya. Menyanyilah mereka kepada Sorga, “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (1 Mak 4:24). Sebab, penulis kitab 1 Makabe mencatat pada hari itu, telah terjadi keselamatan besar untuk Israel. (1 Mak 4:25)

Ratusan tahun kemudian, dua orang pengikut Yesus sedang berjalan ke Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem. Mungkin mereka sama sedih dan gentarnya dengan para pengikut Yudas Makabe. Mereka takut akan dikejar dan dianiaya oleh para petinggi agama Yahudi karena mereka adalah para pengikut Yesus. Angan-angan mereka tentang Mesias yang akan membebaskan bangsa Yahudi juga sudah pudar. Maka, cara terbaik untuk menyelamatkan diri adalah dengan melarikan diri keluar dari Yerusalem.

Kemudian Yesus datang dan berjalan bersama-sama mereka. Mereka melihat-Nya, hanya saja mereka tidak mengenali-Nya, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Kepada Yesus mereka berkeluh kesah tentang peristiwa penyaliban Yesus, padahal mereka mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan Israel. Mereka juga bercerita tentang peristiwa kebangkitan Yesus. Yesus pun menegur mereka dan menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, bahwa Mesias harus menderita untuk mencapai kemuliaan-Nya. Penjelasan Yesus menjernihkan pikiran mereka yang kalut.

Ketika hampir dekat Emaus, kedua pengikut Yesus itu meminta agar Dia bermalam di tempat mereka. Pada saat Yesus duduk makan bersama mereka, mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah, memecah-mecah roti dan membagikannya kepada mereka, barulah mereka sadar bahwa orang itu adalah Yesus. Tetapi, Dia lenyap dari pandangan mereka. Saat itu mereka bangkit lalu kembali ke Yerusalem.

Ada dua hal yang patut dicatat dalam kisah yang khas Injil Lukas ini. Pertama, di awal kisah diceritakan bahwa kedua pengikut Yesus berencana untuk “meninggalkan Yerusalem”. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Yesus, tetapi “tidak mengenali-Nya”. Lewat pertemuan, percakapan, dan diskusi dengan Yesus, mereka mengalami sesuatu. Di akhir kisah diceritakan mereka “kembali ke Yerusalem” dan dapat “mengenali Yesus”.

Pertempuran di dekat Emaus terulang kembali! Kali ini pertempuran bukan berupa perang fisik seperti di zaman Makabe, melainkan perang batin. Manusia tidak mengenali Yesus karena pikirannya tertumpu kepada masa lalu. Mereka terbenam dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam melihat Yesus disalibkan dan wafat. Boleh dikatakan mereka segan untuk move on.

Di dekat Emaus peristiwa sejarah terulang kembali, karena Allah telah menebus dan menyelamatkan manusia. Pada hari itu telah terjadi keselamatan besar untuk manusia. Yesus lenyap dari pandangan manusia ketika dia memecah-mecah roti. Namun itu tidak berarti bahwa Yesus tidak menyertai manusia, bahwa Yesus tidak ada di tengah-tengah manusia. Yesus justru hadir di tengah-tengah manusia dalam Sabda dan Ekaristi.

Di awal kisah juga diceritakan bahwa pengikut Yesus meninggalkan kota Yerusalem. Melalui perjalanan ke Emaus mereka berhasil memenangkan perang batin. Pola pikir, perasaan, dan hati mereka diubah sehingga mereka membatalkan maksud kepergian mereka ke Emaus dan memilih kembali ke Yerusalem. Pengalaman berjumpa dengan Yesus rupanya telah memperkaya iman mereka. Mereka kembali ke Yerusalem untuk mewartakan kabar sukacita kepada para murid yang masih berada di sana.

Dilihat dari susunannya perjalanan ke Emaus menyerupai susunan liturgi perayaan ekaristi. Perayaan Ekaristi dimulai dengan ritus pembuka di mana ada seruan tobat. Dalam perjalanan ke Emaus Yesus menegur kedua pengikutnya sebagai orang bodoh dan lamban. Kemudian Yesus menjelaskan segala sesuatu yang tertulis di dalam Kitab Suci mengenai diri-Nya. Dalam perayaan ekaristi umat beriman merenungkan sabda Allah dalam liturgi sabda. Kemudian tibalah liturgi ekaristi, di mana Yesus hadir di tengah-tengah umat beriman dalam rupa roti dan anggur. Ketika Yesus memecah-mecah roti di hadapan kedua pengikut-Nya, barulah mereka sadar akan kehadiran-Nya. Kehadiran Yesus, baik ketika menjelaskan isi Kitab Suci maupun ketika memecah-mecah roti, membuat pengikut-pengikut-Nya bersukacita. Maka, tugas terakhir mereka adalah kembali ke Yerusalem untuk mewartakan kabar sukacita ini kepada murid-murid lain. Inilah ritus penutup perayaan ekaristi berupa berkat dan pengutusan.

Setiap umat beriman mengalami perjumpaan dengan Yesus ketika merayakan ekaristi. Yesus hadir secara nyata dalam sabda dan roti. Maka akhir dari sebuah perayaan ekaristi selayaknya adalah hati yang bertobat dan diri yang siap diutus untuk menjadi saksi Kristus. Maka, pada hari itu terjadi keselamatan besar untuk manusia, karena Allah satu-satunya penebus dan penyelamat manusia.

Gereja Menyambut Roti Kehidupan dari Meja Sabda Allah dan Tubuh Kristus