MENJADI ORANG TUA KATOLIK

Dipublikasikan tanggal 23 November 2020

Menjadi Orang Tua Katolik

Janji suci yang sudah diucapkan dalam Sakramen Pernikahan Katolik tidak hanya berhenti pada janji kesetiaan suami dan isteri, tetapi lebih jauh lagi janji untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak yang dipercayakan Allah. Namun demikian, ternyata tidak mudah untuk memenuhi janji dan panggilan untuk menjadi orangtua. Dalam perjalanannya, beberapa orangtua terkadang melakukan berbagai kesalahan ataupun kelalaian dalam menanggapi kebutuhan anak dalam tumbuh kembangnya. Tidak jarang ada luka yang ditorehkan orangtua kepada anak dalam upaya mendisiplinkan anak.

Lokakarya Menjadi Orang Tua KAtolik (MOKA) kembali hadir di Paroki Sunter pada 24 Oktober 2020 secara online, mulai dari jam 9.30 – 12.00. Dalam kata sambuatannya, RP Alexander Erwin Santoso, MSF mengatakan bahwa baik sekali bagi orangtua untuk belajar tentang Self Donative Parenting, yaitu bagaimana memberikan diri seutuhnya untuk anak. RP Justianus Bayu Aprianto, OFMConv juga mengajak para peserta untuk terus mendidik anak dengan kasih dan tanggung jawab. Selanjutnya, ke-31 orangtua juga diajak untuk mendalami berbagai informasi tentang tahapan perkembangan anak serta berbagai masalah yang mungkin dihadapi anak pada usia 0-5 tahun. “Children see, children do” menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua agar dapat terus memberikan teladan perilaku yang baik untuk anak balitanya. Baptis bayi merupakan salah satu tugas penting orangtua dalam menanamkan iman kepada anak dari awal sebelum anak-anak mulai mengikuti Bina Iman Anak.

Tim SKK Santo Lukas kembali menggelar lokakarya MOKA secara online pada 7 November 2020. Kali ini ke-18 orangtua diajak untuk bersama-sama bertukar pengalaman mengenai pendekatan yang dilakukan dalam mendidik anak dan mengatasi berbagai permasalahan dalam pengasuhan anak usia 6-12 tahun. Di sini orangtua diingatkan tentang pentingnya menanamkan tanggung jawab kepada anak yang sudah memasuki usia sekolah. Tugas orangtua untuk membimbing iman anak-anak tetap mendapatkan penekanan, apalagi anak-anak sudah akan menerimakan Komuni Pertama. Dalam hal ini, penting sekali untuk memastikan anak-anak dapat terlibat dalam lingkungan yang positif untuk perkembangan imannya, yaitu Misdinar dan Bina Iman Remaja.

Puji Tuhan akhirnya tim SKK Santo Lukas menyelesaikan rangkaian lokakarya MOKA secara online pada 21 November 2020. Kali ini pesertanya berjumlah 61 orangtua. Mendidik anak berusia 13-18 tahun memang merupakan masa yang penuh tantangan, apalagi di era digital yang memungkinkan anak-anak mengakses informasi dengan mudah melalui gadget mereka. Pada masa ini, peran orangtua tidak berkurang, bahkan perlu bekerja lebih keras untuk menjangkau dan merangkul anak-anak untuk membentuk identitas diri yang positif sesuai dengan citra diri sebagai anak Tuhan. Orangtua diajak untuk memahami perkembangan anak yang sudah semakin menuju kedewasaan, termasuk perubahan dari kebutuhan dan pandangan mereka seiring dengan pengalaman yang semakin bertambah. Di masa ini, orangtua perlu memastikan perkembangan iman anak remajanya, terutama dengan mengikuti persiapan Krisma. Para remaja ini juga perlu terus berkomunitas, selain mengikuti kegiatan Misdinar dan Bina Iman Remaja dapat mulai bertransisi ke dalam komunitas Orang Muda Katolik.

Menutup rangkaian lokakarya MOKA, Bapak Petrus Hadrun selaku Ketua Seksi Kerasulan Keluarga Santo Lukas berterima kasih kepada semua peserta yang bersedia meluangkan waktu, baik dari Paroki Sunter, maupun dari paroki lainnya, yaitu Paroki Mangga Besar, Paroki Kelapa Gading, Paroki Rawamangun, Paroki Kampung Duri, Paroki Cempaka Putih, Paroki Salib Suci, Paroki Bintaro Tangerang, dan Paroki Bekasi. Tidak lupa ucapan terima kasih juga diberikan kepada para pembicara, Pasutri Antonius Tanuwijaya - Linggawati Roeslim, Surjono Lasimon - Verda Yolanda, Hengky Handoyo - Maria Magdalena, Slamet Riyadi Halim - Tresdiana Marly, serta Lina Mustopoh.

Semua orangtua Katolik diajak untuk terus belajar dan berproses menjadi orangtua yang lebih baik, dengan memberikan diri seutuhnya kepada anak-anaknya. Orangtua juga perlu terus memberikan teladan dengan membangun relasi keluarga yang intim dan membangun hubungan dengan Tuhan Yesus.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.  (Galatia 4:6-7)

Artikel: Lina Mustopoh