Paskah Mengembalikan Martabat Manusia

Dipublikasikan tanggal 27 May 2022

Paskah Mengembalikan Martabat Manusia Sebagai Citra Allah

Peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Ade Armando oleh beberapa orang saat demonstrasi 11 April 2022 di depan gedung DPR RI lalu masih terasa menyakitkan benak kita. Insiden yang terjadi di pekan Paskah ini bisa menjadi bahan refleksi kita. Konteks tempat dan waktu terjadinya pemukulan tersebut cukup mendukung aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh pelaku. Secara psikologis, situasi kerumuman dapat menyembunyikan identitas pelaku (sering disebut deindividuasi), sehingga pelaku cenderung merasa “aman” untuk melakukan aksinya. Ade Armando merupakan dosen UI yang aktif dalam menyuarakan pendapatnya secara tajam di media sosial mengenai perilaku dan tindakan sebagian dari masyarakat kita yang cenderung tidak toleran terhadap perbedaan, egosentris, memaksakan pandangan agamanya untuk menghakimi orang lain, sehingga sering menimbulkan keresahan dan kegelisahan di masyarakat. Oleh karenanya, ia tidak disukai terutama oleh orang-orang yang merasa tersinggung akibat perkataannya. Bahkan ada antifan yang menyumpahi Ade di media masa bahwa pengeroyokan yang menimpanya adalah balasan Tuhan akibat ia telah menghina umat-Nya yang sering dikritiknya.

Saat ini kemajuan teknologi sudah sangat pesat dan canggih, namun tidak diikuti oleh sikap hidup yang bijaksana. Kreativitas dan inovasi yang menggambarkan kecerdasan sudah sedemikian maju, namun tidak diiringi oleh perilaku moral yang matang. Banyak dari masyarakat kita yang merasa diri paling benar dan berhak menghakimi orang lain hanya karena pendapat orang lain tersebut berbeda dengannya, sehingga orang lain itu harus dihukum. Hukuman yang ditimpakan pun mengandung kekerasan, bukan sekedar kekerasan verbal, namun juga kekerasan fisik yang bisa menimbulkan rasa sakit fisik dan psikologis. Kalau tidak diperlakukan secara demikian, sepertinya hukuman tidak akan menimbulkan efek jera dan ketakutan, sehingga nanti akan terus ada pengeritik-pengeritik berikutnya yang akan merusak citra penguasa (kelompok) yang merasa diri paling benar ini. Walaupun sudah lebih dari dua ribu tahun, kondisi masyarakat kita ini kelihatnnya masih sama dengan situasi masyarakat di saat Yesus disalibkan.

Apa kaitannya peristiwa penganiayaan yang dialami Ade dan Yesus itu dengan kita yang merayakan Paskah di masa pandemi Covid-19 ini? Apakah kita juga melakukan hal yang serupa dengan kelompok pengeroyok Ade atau orang-orang Yahudi yang menjatuhkan hukuman mati untuk Yesus? Meskipun mungkin tidak seekstrim dan sesadis pelaku kekerasan di kedua peristiwa itu, barangkali kita bisa mengingat-ingat kita pernah memperlakukan orang lain secara tidak adil hanya karena orang lain itu berbeda dengan kita (misalnya, tidak berasal dari kelompok sosial yang sama dengan kita) atau tidak sependapat dengan kita tentang suatu persoalan, atau berbeda pandangan hidup. Seperti apakah kita memandang martabat manusia?

Situasi kekerasan yang digambarkan di atas selaras dengan tema prapaskah KAJ yang pernah disampaikan Uskup KAJ, yaitu perlunya umat menghayati martabat manusia dan berusaha mencari jalan-jalan kreatif untuk menjunjung tinggi dan menghormati martabat manusia itu. Kardinal Ignatius Suharyo menyebutkan bahwa untuk mencapainya, pertama-tama yang harus dipahami adalah jati diri manusia menurut keyakinan iman kita. Beberapa ciri martabat manusia dapat ditemukan dalam dokumen Gereja, Gaudium et Spes. Ciri-ciri tersebut antara lain adalah:

Manusia diciptakan sebagi gambaran atau citra Allah (Kej 1:27) sebagai puncak karya penciptaan (lihat Surat Gembala Prapaskah 2022 KAJ, Februari 2022). Artinya manusia sangat berharga di mata Allah. Namun, pada bagian kisah penciptaan lainnya disebutkan bahwa “Allah membentuk manusia dari debu tanah” (Kej 2:7). Kisah ini mau menegaskan bahwa manusia itu rapuh, mudah digoda oleh yang jahat sehingga ia jatuh dalam dosa (lihat kisah dosa manusia pertama). Melalui kisah penciptaan tersebut inilah keyakinan iman kita mengenai jati diri manusia, yaitu manusia adalah pribadi rapuh, yang dipanggil oleh Allah untuk bertumbuh menjadi pribadi yang semakin mulia - menjadi pribadi yang semakin bermartabat.


Manusia diciptakan sebagai mahluk berakal budi, dapat berpikir dalam nalar, dan membuat pertimbangan-pertimbangan rasional. Kodrat manusia ini disempurnakan melalui kebijaksanaan, di mana budi manusia ditarik untuk mencari dan mencintai apa yang serba benar dan baik. Artinya, manusia tidak cukup berhenti pada tingkat mengetahui dan bernalar saja, namun juga pada kebijaksanaan. Sebagai upaya mencapai kebijaksanaan, manusia diberi hati nurani (moral). Di lubuk hatinya manusia menemukan hukum yang tidak diciptakan oleh dirinya sendiri melainkan oleh Allah, dan ia harus menaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggema dalam lubuk hatinya: jalankanlah ini, hindarilah itu. Martabat manusia ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili.

Martabat manusia lainnya yang terkait dengan panggilan melaksanakan apa yang baik dan menghindari yang jahat adalah bahwa manusia diciptakan dengan keistimewaan: memiliki kehendak bebas. Sebab Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri, supaya ia dengan sekarela mencari Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan. Maka martabat manusia menuntut, supaya ia bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, artinya: digerakkan dan didorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena rangsangan hati yang buta, atau semata-mata paksaan dari luar. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya sendiri di hadapan takhta pengadilan Allah, sesuai dengan perbuatannya yang baik maupun yang jahat.

Paskah yaitu kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian merupakan tanda kemenangan dan penebusan atas dosa (kematian) manusia. Selain karena kerapuhannya sebagai ciptaan yang terbuat dari debu dan tanah, kejatuhan manusia ke dalam dosa bisa juga disebabkan oleh beberapa hal, seperti misalnya pemahamannya yang rendah tentang martabat dirinya sebagai citra Allah, atau karena kehendak bebasnya yang lebih sering memilih hidup duniawi daripada mendekat kepada Tuhan, atau memang tidak tertarik untuk mengenal Allah. Apa pun penyebab atau alasannya, bagi Tuhan Yesus penebusan yang diberikan kepada manusia bersifat mutlak supaya manusia bisa kembali pulang ke rumah Bapa, bukan ke tempat lainnya.

Melalui kebangkitan, martabat Yesus sebagai manusia yang direndahkan hingga titik terendah, yaitu kematian dipulihkan sepenuhnya dalam citranya sebagai Allah. Hal ini mau menunjukkan bahwa manusia pun yang oleh karena kerapuhannya sebagai debu dan tanah sehingga mudah jatuh ke dalam dosa dapat dibangkitkan melalui kerahiman Allah sehingga dapat kembali mencapai martabatnya yang mulia, yaitu sebagai citra Allah. Paskah sungguh merupakan rahmat yang agung dan mulia, kasih Allah yang berlimpah-limpah bagi manusia!

Selamat Paskah!