KITAB SUCI DAN LITURGI

Dipublikasikan tanggal 06 September 2022

KITAB SUCI DAN LITURGI

 

Bulan September adalah bulan Kitab Suci bagi umat Katolik. Banyak orang berpendapat bahwa umat Katolik kurang akrab dengan Kitab Suci dan lebih mengutamakan sakramen-sakramen, hal mana tentu tidak benar. Memang, Gereja mengajarkan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani (Lumen Gentium 11), namun Ekaristi sangat erat hubungannya dengan Kitab Suci, karena dalam perayaan Ekaristi umat Katolik merayakan liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi sebagai “satu tindakan ibadat” (Sacrosanctum Concilium 56).


Kitab Suci sebagai Sabda Allah terkait dengan karunia inspirasi sebagaimana dinyatakan oleh Paulus, bahwa “segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:6). Bagaimana karunia inspirasi bekerja di dalam penulisan kitab-kitab suci tentu saja merupakan misteri yang tidak pernah akan mampu diselami oleh pikiran manusia. Sayangnya, banyak umat Katolik yang menganggap bahwa Kitab Suci adalah serangkaian kitab-kitab kuno yang ditulis dalam bahasa yang amat rumit, sehingga mereka akan segera menyerah setelah mulai membaca beberapa ayat Kitab Suci. “Tidak mengerti saya bahasanya!” - mungkin itulah yang sering dikemukakan oleh umat Katolik ketika membaca Kitab Suci. Padahal, memahami Kitab Suci sebagai Sabda Allah adalah sama seperti memahami peristiwa inkarnasi di mana Allah menjadi manusia dan tinggal di antara mereka. Konstitusi dogmatik tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum 13) menyatakan bahwa “... sabda Allah, yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dulu Sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia”. 


Di tempat lain Dei Verbum membuka renungannya tentang kedudukan Kitab Suci dalam hidup Gereja dalam bab VI dengan kata-kata berikut, “… Kitab-kitab ilahi seperti juga Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang–terutama dalam Liturgi suci–tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun Tubuh Kristus”. Dokumen lain, Verbum Domini, Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Bapa Suci Paus Benediktus XVI, menyatakan bahwa “… perhatian pertama-tama hendaknya diberikan kepada liturgi suci, karena liturgi adalah tempat istimewa di mana Allah berbicara kepada kita di tengah-tengah kehidupan kita; Ia sekarang berbicara kepada umat-Nya, yang mendengarkan dan menjawab. Setiap tindakan liturgi seturut hakikatnya sendiri diresapi dengan Kitab Suci …” (VD 52). Pada artikel yang sama dinyatakan bahwa “… Pemahaman penuh iman akan Kitab Suci harus selalu mengacu kembali kepada liturgi, di mana Sabda Allah dirayakan sebagai Sabda yang aktual dan yang hidup” (VD 52). Dari pernyataan-pernyataan dalam dokumen-dokumen gerejawi di atas dapatlah dipastikan bahwa Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Liturgi. Mungkin banyak orang, termasuk umat Katolik sendiri, tidak menyadari bahwa terdapat lebih dari seratus rujukan alkitabiah dalam teks-teks liturgis, misalya “Tuhan kiranya menyertai kamu” (Rut 2:4) dan “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:13). Ternyata banyak kutipan Kitab Suci yang ditulis dalam format liturgis. 


Seluruh umat Katolik meyakini bahwa Kristus hadir secara nyata dalam perayaan Ekaristi, namun tidak semuanya mengetahui wujud-wujud kehadiran nyata Kristus dalam perayaan-perayaan gerejawi. Untuk itu Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium menyatakan bahwa, “… Ia hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan … dalam (kedua) rupa Ekaristi … dalam Sakramen-sakramen … dalam sabda-Nya … sementara Gereja memohon dan bermazmur …” (SC 7). Gereja mengakui bahwa ada setidak-tidaknya lima cara Kristus hadir secara nyata (real presence) di dalam Liturgi suci. 


Santo Heronimus mengatakan bahwa “tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus (ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est)”. Santo Heronimus (347-420) berhasil menerjemahkan kitab suci Ibrani ke dalam bahasa Latin. Gereja memperingati orang kudus ini pada setiap tanggal 30 September, oleh sebab itu bulan September ditetapkan oleh Gereja sebagai bulan Kitab Suci. Ada pernyataan lain dari Santo Heronimus, yang dikutip oleh Paus Benediktus dalam dokumen Verbum Domini sebagai berikut, “Jika kita mendekati Misteri (Ekaristi), bila ada remah-remah yang jatuh ke lantai kita sedih. Demikian juga ketika kita mendengarkan Sabda Allah, dan Sabda Allah dan tubuh Kristus dan darah-Nya dicurahkan ke dalam telinga kita namun kita tidak mengindahkan, ke dalam bahaya besar apa kita tidak masuk (VD 56)?” Pernyataan Santo Heronimus ini semoga mengetuk pintu hati umat untuk semakin menghargai setiap kata Sabda Allah sama seperti menghargai setiap remah Tubuh Kristus. Perayaan Ekaristi menuntut partisipasi aktif umat beriman sehingga “… jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah (SC 48)”.


Adanya hubungan yang begitu erat antara Kitab Suci dan Liturgi mengundang semua umat Katolik untuk membangun hidup rohani di atas dasar Kitab Suci dan Liturgi. Refleksi ini mungkin bernada terlalu idealistis dan Penulis menyadari semuanya itu. Namun barangkali baiklah kita melihat semuanya itu dan semakin hari semakin menyadarinya agar kita terus mengejarnya “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp 3:14)”.

 

Menghargai Setiap Kata Sabda Allah Sama Seperti Menghargai Setiap Remah Tubuh Kristus