PROGRAM MEMBANGUN RUMAH TANGGA

Dipublikasikan tanggal 03 October 2022

Program Membangun  Rumah Tangga Tatap Muka Perdana

Cuaca cerah di pagi hari itu.  Sembilan belas pasangan calon menikah pada hari pertama dan 18 pasang pada hari kedua memasuki Ruang Antonius, yang terletak di lantai 2, Pondok Paroki Sunter, Gereja Santo Lukas, Jakarta Utara. Rupanya hari Sabtu dan Minggu tanggal 24 dan 25 September 2022, Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) mengadakan Program Membangun Rumah Tangga (MRT). Ini adalah MRT ke-3 yang diadakan Gereja Santo Lukas pada tahun 2022. MRT diadakan dua hari penuh dari Pukul 08.00 – Pukul 17.00 WIB.

Mengikuti Program MRT adalah salah satu syarat menikah di Gereja Katolik. Materi MRT disusun oleh Komisi Kerasulan Keluarga, Keuskupan Agung Jakarta (KomKK KAJ). Ada 12 topik yang dibawakan oleh fasilitator yang seluruhnya berasal dari Gereja Santo Lukas dan telah memiliki sertifikat dari KomKK KAJ. Fasilitator terdiri dari : pasutri awam ; dokter ; dan pastor. Pada MRT kali ini, bergabung 3 fasilitator baru yaitu : Dr. Freggy Spicano Joprang, Kristi Widjaja dan Michael Widyananda Budianto.

Adapun Topik-topik  MRT adalah :

1.Inilah Diriku

2.Keluarga Berbicara

3.Mewujudkan Pengharapan

4.Memahami Cinta

5.Perkawinan pada Umumnya

6.Perkawinan Sakramental

7.Tata Cara Upacara Perkawinan

8.Pengelolaan Keuangan

9.Mengolah Rohani

10.Menghadirkan Kristus di Rumah Kita

11.Pengaturan Kelahiran

12.Kita di dalam Misi

Di setiap topik ada pre test, kutipan kitab suci, penjelasan singkat dari fasilitator, diskusi, refleksi,  video sharing, dan post test.  Pre test dan post test diadakan untuk mengetahui sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan. 


Program Membangun Rumah Tangga menggunakan metode workshop (lokakarya).  Dengan metode lokakarya, program MRT diharapkan mudah dimengerti, menginspirasi, dan dikemas dengan menarik, bukan tutorial satu arah. Sehingga interaksi antara pasangan calon menikah lebih diutamakan dan dapat dipraktikkan ketika pasangan calon menikah sudah berada dalam rumah tangga.


Di setiap topik, pasangan calon menikah mengisi pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam buku MRT. Buku ini berfungsi sebagai Sertifikat Program MRT. Buku ini pula yang nantinya akan dibawa saat penyelidikan kanonik.

Sesi MRT Topik 6 adalah Perkawinan Sakramental. Fasilitatornya, Romo Maksinimus Nepsa, OFMConv.  Saat sesi itu, Romo Maksi bertanya kepada peserta, apa yang membuat peserta ingin menikah di Gereja Katolik.
“Walaupun semula beda agama, tapi rencana mengikuti agama calon, ingin masuk Katolik. Jadi menikah di Gereja Katolik”. Demikian jawaban dari salah satu peserta calon menikah.
Ada pula yang menjawab : “Saat ini kami berbeda agama. Mengalami ketika mengurus perkawinan Katolik begitu sulit, step-nya begitu ribet, jadi menurut saya, inilah perkawinan yang baik”

Ternyata ada peserta calon menikah yang berpendapat semakin ribet pengurusan perkawinan semakin baik perkawinan tersebut, yang kemudian diulas oleh Romo Maksi  bahwa memang sifat perkawinan Katolik adalah monogami, tak terceraikan dan seumur hidup. MRT pada tanggal 24 dan 25 September 2022 lalu, adalah MRT tatap muka perdana  yang diadakan setelah 2,5 tahun MRT di Santo Lukas diadakan secara online, karena pandemi Covid-19. Tentunya Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) sebagai penyelenggara sangat antusias dengan MRT tatap muka kali ini. “Walaupun sudah lama ga offline, kita tetap semangat, kompak dan saling bantu. Happy banget bisa kumpul lagi,” begitu komentar Herman Iswanto, Ketua Program MRT Santo Lukas.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dalam pelayanan MRT kemarin.   Kalau kita offline, ada kebersamaan, ada tawa dan canda, ada cape tapi hati senang”, demikian Antonius Tanuwijaya, Ketua SKK Santo Lukas, Periode 2022-2025.

Sampai jumpa di Program MRT Santo Lukas berikutnya di bulan November 2022.

/franciskarenny