PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA ke-60
Dipublikasikan tanggal 22 March 2026
![]()
Pesan Paus Leo XIV
Untuk
Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60
“MENJAGA SUARA DAN WAJAH
MANUSIA”
Saudara-saudari terkasih,
Wajah dan
suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik
dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.
Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya,
mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti
“wajah”, yaitu sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan
terjadinya hubungan. Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare)
juga mengandung makna suara, bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik
seseorang.
Wajah dan
suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang
menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk
hidup melalui Sabda-Nya. Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para
nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan.
Sabda Allah cara Allah menyatakan diri-Nya dapat kita dengar dan lihat secara
nyata (lih. 1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra
Allah.
Sejak awal
penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti
dikatakan Santo Gregorius dari Nisa,[1] Allah
meninggalkan pantulan kasih-Nya pada wajah manusia agar manusia dapat hidup
sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih. Karena itu, menjaga wajah dan suara
manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus.
Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah
ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan
tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam
komunikasi dengan sesama.
Jika wajah dan
suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara mendasar
pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja.
Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan,
kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut
kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi
juga menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan
antarpribadi.
Karena itu,
tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan
masalah tentang manusia itu sendiri. Menjaga wajah dan suara berarti menjaga
martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi
digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan
tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang
menyertainya.
Jangan Berhenti Berpikir Sendiri
Sudah lama ada
banyak bukti bahwa algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan
keterlibatan pengguna demi keuntungan platform lebih mendorong
emosi yang cepat dan dangkal, sementara justru menghambat ungkapan manusia yang
membutuhkan waktu, seperti usaha untuk memahami dan merenung. Dengan mengurung
kelompok-kelompok orang dalam “gelembung” persetujuan instan dan kemarahan yang
mudah, algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis,
serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat.
Situasi ini
diperparah oleh sikap mempercayai kecerdasan buatan secara naif dan tanpa sikap
kritis, seolah-olah ia adalah “teman” yang mahatahu, penyedia semua informasi,
penyimpan seluruh ingatan, dan “peramal” segala nasihat. Semua ini berisiko
semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir secara analitis dan kreatif,
memahami makna, serta membedakan antara struktur bahasa dan arti yang
sesungguhnya.
Walaupun
kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi,
menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan
statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif,
emosional, dan komunikasi kita.
Dalam beberapa
tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks,
musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko
dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang
mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh
dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih. Sementara itu,
karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra
direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.
Namun,
persoalan utama bukanlah apa yang dapat atau akan dapat dilakukan oleh mesin,
melainkan apa yang dapat dan akan dapat kita lakukan sebagai manusia bertumbuh
dalam kemanusiaan dan pengetahuan dengan menggunakan secara bijaksana alat-alat
yang sangat kuat ini. Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk mengambil buah
pengetahuan tanpa usaha keterlibatan, pencarian, dan tanggung jawab pribadi.
Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin
berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam
relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri
dan membungkam suara kita.
Menjadi atau Berpura-pura: Simulasi Relasi dan Realitas
Saat kita
terus menggulir arus informasi (feed), semakin sulit untuk
mengetahui apakah kita sedang berinteraksi dengan manusia lain atau dengan “bot”
dan “influencer
virtual”. Campur tangan agen otomatis ini, yang sering kali tidak
transparan, mempengaruhi perdebatan publik dan pilihan-pilihan pribadi.
Terutama chatbot berbasis
model bahasa besar (LLM) terbukti sangat efektif dalam persuasi tersembunyi
melalui interaksi yang terus dioptimalkan secara personal.
Struktur
dialog yang adaptif dan meniru manusia dari model bahasa ini mampu menirukan
perasaan manusia dan dengan demikian mensimulasikan suatu relasi.
Antropomorfisasi ini yang kadang tampak menghibur sebenarnya menyesatkan,
terutama bagi orang-orang yang rentan. Chatbot yang dibuat
terlalu “penuh perhatian”, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi
pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi.
Teknologi yang
mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi tidak hanya dapat membawa dampak
menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan
politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia
digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk
mengklasifikasikan pikiran kita dan membangun di sekitar kita dunia cermin, di
mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita sendiri”. Dengan cara
ini, kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda dari
kita padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah kita belajar
berdialog. Tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati
maupun persahabatan.
Tantangan
besar lainnya adalah masalah distorsi atau bias, yang menyebabkan terbentuk dan
tersebarnya pemahaman realitas yang keliru. Model kecerdasan buatan dibentuk
oleh pandangan dunia para pembuatnya dan dapat memaksakan cara berpikir
tertentu dengan meniru stereotip dan prasangka yang ada dalam data
pelatihannya. Kurangnya transparansi dalam perancangan algoritma, ditambah
dengan representasi sosial data yang tidak memadai, berisiko menjebak kita
dalam jaringan yang memanipulasi pikiran serta melanggengkan dan memperdalam
ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang sudah ada.
Risikonya
sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan
dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan
mengambil alih wajah dan suara kita. Kita hidup dalam dunia yang semakin
berlapis, di mana membedakan antara kenyataan dan rekayasa menjadi makin sulit.
Masalah lain
yang menyertai adalah kurangnya ketepatan. Sistem yang menyajikan probabilitas
statistik seolah-olah itu pengetahuan sejati sebenarnya hanya memberikan
perkiraan kebenaran, yang kadang berubah menjadi “halusinasi”. Ketika
verifikasi sumber diabaikan ditambah krisis jurnalisme lapangan yang menuntut
kerja langsung untuk mengumpulkan dan memeriksa fakta di tempat kejadian maka
ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan,
serta ketidakamanan pun meningkat.
Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan
Di balik
kekuatan besar yang tak terlihat ini yang memengaruhi kita semua sebenarnya
hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya baru-baru ini bahkan dipuji
sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak
(oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi
perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat
manusia termasuk sejarah Gereja sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.
Tantangan kita
bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dengan
bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda. Setiap orang
dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini
sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman.
Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama: tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan. Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Bagi para
pemimpin platform digital,
tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka tidak hanya
didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh kepedulian terhadap
kesejahteraan bersama sebagaimana mereka peduli pada masa depan anak-anak
mereka sendiri.
Para perancang
dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap transparan dan
bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan dan
sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para
pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.
Tanggung jawab
yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator, baik di
tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat manusia.
Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang
berlebihan dengan chatbot, serta membatasi
penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, sehingga integritas
informasi tetap terjaga.
Perusahaan
media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya mengejar
perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari
kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi,
bukan sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya. Konten yang
dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang
jelas dan dibedakan dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya
para jurnalis serta kreator konten harus dilindungi. Informasi adalah milik
publik. Pelayanan publik yang bermakna dan membangun harus berlandaskan
keterbukaan sumber, pelibatan pihak terkait, dan standar kualitas yang tinggi.
Kita semua
juga dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu
sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola
kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama.
Semua pihak mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri
kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik harus terlibat
dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.
Di sinilah
peran pendidikan menjadi sangat penting: meningkatkan kemampuan berpikir
kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik
pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan.
Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman
praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Karena itu,
semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan
buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang sebuah langkah yang sudah
mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil. Sebagai umat Katolik, kita dapat
dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam kemampuan
berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian
dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat
yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi
perubahan teknologi yang cepat.
Literasi
media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk tidak
memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat. Literasi
ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan
buatan yang bisa saja keliru melindungi privasi dan data pribadi, serta
memahami pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan. Penting untuk belajar
menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus
melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk
penipuan digital, perundungan siber, atau deepfake yang
melanggar privasi dan martabat manusia.
Sebagaimana
revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar manusia mampu
beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital bersama
dengan pendidikan humaniora dan budaya agar kita memahami bagaimana algoritma
membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam kecerdasan
buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi kita,
serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.
Kita
membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita
perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia,
dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.
Dengan
menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang
bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang
mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi.
Vatikan, 24 Januari 2026
Peringatan Santo Fransiskus de Sales
PAUS LEO XIV



