MENGOLAH SAMPAH MENJADI BERKAH
Dipublikasikan tanggal 25 April 2026

Mengolah Sampah Menjadi Berkah
Sebagai ujud nyata Pertobatan Ekologis maka
WKRI Cabang St Lukas bekerjasama dengan Sub Seksi Lingkungan Hidup mengadakan
seminar dan workshop tentang Pengolahan Sampah dan Pembuatan Ecoenzym.

Pagi yang cerah, Sabtu 11 April 2026 pukul
09.00-12.30, sekitar 74 orang panitia
dan peserta berkumpul di pendopo Gereja St Lukas. Sebagian dari mereka adalah
Duta Lingkungan dan utusan Ranting WKRI serta masyarakat umum sekitar gereja
yang merupakan utusan dari RW06 dan RW07. Mereka dengan antusias memenuhi
undangan seminar Pengolahan Sampah dan Pembuatan Ecoenzym yang diprakarsai oleh
WKRI berkolaborasi dengan Sub Seksi Lingkungan Hidup.

Seminar tersebut juga merupakan kelanjutan
dari pertemuan Sosialisasi Pemilahan Sampah yang diselenggarakan oleh TSBP 1
dan 4 pada 1 Februari 2026. Dari pertemuan itu lahirlah para Duta Lingkungan.

Setelah mengawali dengan menyanyikan lagu Mars
Wanita Katolik RI dilanjutkan dengan Indonesia Raya dan doa pembukaan, tanpa
banyak membuang waktu lagi Ibu Raymunda Sumiati sebagai MC mempersilakan
perwakilan dari WKRI Cabang St Lukas yaitu Ibu Rosemary Tan dan Ibu Christine
Liwang selaku Ketua Sub Seksi Lingkungan Hidup menyampaikan kata sambutan.
Setelah itu kedua narasumber yaitu Bapak RB Sutarno dan Sr Irena Handayani OSU
memulai pemaparan materi seminar.

Bapak Robertus Bellarminus Sutarno adalah
salah satu umat Paroki St Yohanes Bosco yang sudah sejak 2008 memiliki
keprihatinan akan lingkungan hidup. Beliau adalah peraih penghargaan Kalpataru
tingkat Provinsi DKI Jakarta 2016 dan Kalpataru Nasional 2020. Selain itu
beliau adalah pendiri dari Utama Composter.

Dalam paparannya, Pak Tarno, begitu panggilan
akrab beliau, menekankan pentingnya memulai pemilahan dan pengolahan sampah
dari masing-masing keluarga. Setiap rumah tangga diharapkan dapat memilah
sampah organik, anorganik dan Limbah B3( Bahan Berbahaya dan Beracun).

Selanjutnya, khusus untuk bahan organik dapat
diolah dalam composter maupun dijadikan bahan dasar pembuatan Ecoenzym. Hasil
dari composter berupa Pupuk Cair Organik( PCO) ataupun tanah humus yang dapat
digunakan untuk menanam dan memupuk tanaman. Hal ini menjadikan tanaman dan
manusia menjadi sehat karena mengurangi pemakaian pupuk kimia.
Seusai Pak Tarno memaparkan materinya, kini
giliran Sr Irena OSU memulai workshop praktek untuk membuat Ecoenzym. Para
utusan dan Duta Lingkungan yang hadir sudah dihimbau untuk membawa kulit
buah-buahan sebanyak 1,5kg. Kulit buah-buahan yang dibawa berasal dari buah
Jeruk, Nanas, Apel, Pir dan buah Naga.
Selain kulit buah-buahan, para peserta juga
sudah mendapatkan ember ecoenzym yang khusus dibuat oleh Pak Tarno.
Setelah memotong-motong kulit buah-buahan dan
menimbangnya sebanyak 1,5kg maka kulit buah-buahan tersebut dimasukkan ke dalam
wadah ember ecoenzym. Gula merah sebanyak 500gram ditambahkan ke dalam ember
sebagai aktivator, lalu air sebanyak 5 liter dituang ke dalam ember. Air yang
dapat digunakan adalah air sumur, air toren, air PAM yang sudah diendapkan
semalam, serta air hujan.
Secara ringkas perbandingan resep untuk
membuat ecoenzym sebagai berikut: 1:3:10 yaitu 1 kilogram gula merah, 3
kilogram kulit buah dan 10 liter air.
Tetapi untuk praktek sesuai ukuran wadah ember ecoenzym, hanya dipakai setengah resep saja yaitu 500 gram gula merah, 1,5kilogram kulit buah dan 5 liter air. Setelah semua bahan tercampur, tutup wadah rapat-rapat selama 3 bulan tanpa dibuka. Panen hasil akan dilakukan 3 bulan kemudian berupa cairan Ecoenzym.
Manfaat dari cairan Ecoenzym adalah:
- Pupuk tanaman, dapat diencerkan terlebih dahulu dengan perbandingan 1: 50.
- Juga dapat dituang ke dalam kloset sebanyak 300 ml guna mencegah kloset mampet,lakukan 3 bulan sekali.
- Campuran bahan pel lantai
- Ampas cairan Ecoenzym dapat dicampurkan ke tanah sebagai pupuk
Selain dapat digunakan langsung, ada juga produk-produk turunan yang terbuat dari cairan ecoenzym, yaitu sabun pencuci piring, shampoo, bantal ecoenzym. Untuk cara pembuatan produk turunan tersebut rencananya akan diadakan workshop lanjutan di kemudian hari.
Seminar dan workshop diakhiri dengan doa
penutup dan makan siang bersama.
Marilah kita mengolah sampah menjadi berkah untuk menjaga keutuhan alam ciptaan.
Artikel : Santi




