Surat Keluarga April 2013

Dipublikasikan tanggal 11 April 2013

Surat Keluarga April 2013

Bangkit Dan Bersaudara

 

Keluarga-keluarga Katolik di Jakarta, Selamat Paskah! Semoga kita bersama dapat mengalami kasih Allah yang nyata dalam pengalaman berkeluarga kita. Saya ingin meneruskan lagi pesan rohani kita dengan semangat Arah Dasar Pastoral KAJ yang menekankan pada “Persaudaraan Sejati”.

Persaudaraan sejati perlu kita bangun dari akar rumput, bahkan sampai di sumbernya, yaitu dalam keluarga. Semangat persaudaraan perlu dibiasakan dengan kesadaran bahwa suasana itu dibutuhkan untuk membangun pengalaman kasih dalam keluarga kita dulu.

Sungguh suatu hal yang aneh dan memprihatinkan, bahwa pasangan suami isteri bisa saling menuntut karena merasa kurang diperhatikan, kurang dihargai, tidak diajak berbicara, tinggal dalam rumah terpisah, karena perasaan kurang di-manusia-kan menjadi alasan. Karena perasaan menjadi “orang lain” di rumah sendiri seperti itu, akibatnya isteri meminta berpisah, atau anak-anak minggat dari rumah dan mulai terlibat dalam pergaulan yang tidak sehat.

Beberapa orang Katolik mengalami persoalan kesetiaan dalam keluarganya. Mereka merasa sangat tidak nyaman dalam rumah yang penuh dengan tuntutan; rumah yang berisi urusan bisnis saja; atau rumah yang dipenuhi anggota keluarga yang sibuk sendiri-sendiri. Kesetiaan menjadi beban.

Semangat persaudaraan itu menciptakan rasa aman dan pengalaman dikasihi dan diperhatikan. Keluarga yang mengembangkan semangat persaudaraan berarti menciptakan kebersamaan yang sehat, saling meneguhkan, menerima perbedaan sebagai kekayaan yang terus menerus perlu dimengerti dan didalami bersama.

Persaudaraan dalam keluarga bukan berasal dari kenyataan bahwa suami dan isteri disatukan dalam ikatan resmi perkawinan saja. Persaudaraan orangtua dan anak juga bukan karena ikatan biologis. Semangat persaudaraan ini terlahir karena sama-sama mengerti bahwa manusia yang hidup bersama pada dasarnya berbeda, unik, mempunyai pengalaman dunia dan pengalaman batin sendiri-sendiri, tetapi semua membutuhkan perasaan dicintai dan disatukan oleh kasih.

Persaudaraan berarti memahami bahwa setiap anggota keluarga itu bukan “orang lain” melainkan orang-orang yang menjadi bagian hidup kita. Kita yang mengerti, memahami, punya waktu dan cinta, perlu dengan tulus dan sadar mengambil bagian aktif untuk merawat persaudaraan ini. Menciptakan suasana yang akrab, hangat, penuh ketulusan, melayani, atau memberi waktu untuk bersama adalah cara-cara yang baik untuk persaudaraan itu.

Mereka yang lemah dan kurang dalam beberapa hal perlu mendapat peneguhan bahwa dirinya berharga. Kebersamaan, penerimaan, ajakan bekerja bersama, penghargaan, sekedar pelukan hangat, atau mengajak berpendapat barangkali dapat menjadi pengalaman yang meneguhkan setiap anggota keluarga mengalami ”persaudaraan” yang sebenarnya dengan orang-orang serumah.

Dukungan perlu diberikan kepada orang-orang di rumah, agar perasaan yang tak diinginkan, frustasi, kesepian, merasa diabaikan, perasaan tidak diterima, dan akhirnya putus asa, jangan sampai terjadi. Perasaan negatif ini dapat dikurangi dengan suasana persaudaraan dalam keluarga. Setiap orang mengetahui bahwa dukungan melalui apa saja sangat berarti bagi orang-orang yang dikasihi

Keluarga-keluarga KAJ terkasih, perlu kita sadari adanya bahaya ancaman dari luar yang merusak keluarga kita, seperti narkoba, sex bebas, pelecehan seksual, perkelahian masal, dan perceraian dalam keluarga karena pertengkaran yang saling melukai. Barangkali semangat persaudaraan dapat menjadi solusi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan.

Di mana-mana bahaya narkoba menghantui kita. Mereka yang mengkonsumsinya pernah mengalami kesunyian dalam kelimpahan. Mereka yang terlibat seks bebas atau kecanduan pornografi dalam internet mengalami hubungan yang miskin dengan orangtua atau pasangannya. Pasutri-pasutri yang tidak serumah lagi mengalami kekeringan dalam hubungan yang tidak hangat dan kurang cinta.

Melarang dan memberitahu anggota keluarga kita untuk jangan melakukan hal-hal yang merugikan seringkali sulit, dan kurang efektif, karena perasaan dikasihi dan diperhatikan juga miskin. Akan tetapi, kalau anggota keluarga merasa mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup, maka proses penerusan nilai menjadi lebih mudah, karena hubungan persaudaraan sudah berlangsung baik.

Pengalaman bersaudara yang disadari dalam keluarga membuat setiap anggota keluarga, baik orangtua maupun anak-anak menjadi lebih pandai menciptakan suasana persaudaraan sejati bagi orang-orang di sekitarnya. Bayangkanlah, bahwa kita dan anak-anak kita menjadi pelopor-pelopor semangat bersaudara di antara orang-orang di sekitar, bukankah ini sangat membanggakan?

Selamat Paskah untuk keluarga-keluarga di KAJ, sambil menantikan kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang akan datang, kita lanjutkan semangat kebangkitan Tuhan dengan terlebih dahulu menciptakan kesadaran persaudaraan sejati dalam rumah tangga kita. Ciptakan kata-kata yang meneguhkan, berilah waktu untuk menyentuh mereka, berikanlah hadiah untuk orang-orang tercinta, layanilah orang tercinta, dan ajaklah mereka mengalami kebangkitan Tuhan yang nyata dalam diri Anda sendiri yang diberkati dan memberkati.

Salam Keluarga Kudus

Rm.Alexander Erwin MSF