KISAH LAZARUS DAN ORANG KAYA

Dipublikasikan tanggal 25 September 2020

KISAH LAZARUS DAN ORANG KAYA

Pertemuan Bulan Kitab Suci Minggu Keempat

Sudah 75 tahun bangsa Indonesia merdeka, tetapi banyak orang mempertanyakan apakah semua rakyat Indonesia sudah mengecap citra rasa kemerdekaan? Kita masih melihat proses dehumanisasi di sekitar kita, terutama di kota-kota besar. Jurang kaya miskin makin lebar. Peningkatan penjualan mobil-mobil mewah “paralel” dengan penambahan angka PHK di kalangan  pekerja kelas bawah. Pertumbuhan properti mewah berpacu dengan penyebaran hunian warga melarat. Sungguh tepat kiranya BKS minggu keempat mengambil bacaan dari Luk 16:19-31, yang mengisahkan tentang Lazarus dan orang kaya. 

Injil Lukas bab 16 memang berbicara tentang harta duniawi, dimulai dengan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1-8), ajaran tentang Allah dan Mamon (16:9-13), kecaman terhadap orang-orang Farisi yang adalah hamba-hamba uang (16:14-18), dan ditutup dengan kisah tentang Lazarus dan orang kaya (16:19-31). Kondisi sosio ekonomi pada saat itu diwarnai dengan berbagai pajak dan biaya yang dibebankan kepada rakyat: pajak kepada Romawi dan raja Herodes, perpuluhan dan bea Bait Allah. Maka, banyak rakyat kecil dimiskinkan dengan pelbagai pungutan tersebut. Mereka kehilangan tanah warisan atau menjadi budak demi membayar utang. 

Dalam Kitab Suci tidak disebutkan nama orang kaya itu, namun terjemahan Latin Vulgata menyebut namanya sebagai Dives. Pemerintah Romawi juga melegalkan perbudakan pada masa awal Gereja perdana. Kelompok masyarakat kelas atas hidup dalam kemewahan dan kelimpahan, sebaliknya kelompok masyarakat kecil harus berjuang untuk memperoleh sesuap nasi. 

Sesungguhnya, hukum mewajibkan orang Yahudi untuk memelihara orang-orang miskin sebagaimana diuraikan dalam Im 25:8-38 dan Ul 15:4-16. Para nabi pun kerap meneriakkan keadilan bagi orang-orang kecil (Yes 10:1-4; 58:67). Komunitas Gereja juga diharapkan untuk berbuat hal yang sama. Maka, kisah ini diangkat untuk memulihkan hubungan antara si kaya dan miskin, terutama dalam komunitas Kristiani, meskipun potret masyarakat Yahudi dan komunitas Gereja pada masa itu kebanyakan adalah orang-orang sederhana. Hanya sebahagiaan kecil dari mereka yang berada, namun kebanyakan mereka malah menindas orang-orang kecil. Orang-orang miskin dan kecil hidup mengandalkan belas kasihan orang lain yang lebih mampu. Kata miskin dalam Bahasa Ibrani ada ani (עני) dan anav (ענו). Ani lebih menunjuk kepada kemelaratan dalam arti fisik, di mana seseorang harus berjuang hari demi hari untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar. Mereka adalah kelompok masyarakat yang paling tidak berdaya, sehingga sungguh mengandalkan Tuhan dalam kelangsungan hidup mereka. Dari situlah muncul istilah “miskin di hadapan Allah” atau anav. Dalam konteks inilah pernyataan Yesus, “Berbahagialah, hai kamu yang miskinn, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” dapat dipahami (Luk 6:20).

Luk 16:19-21 melukiskan jurang perbedaan antara Lazarus dan Dives. Dives berpakaian jubah ungu dan kain halus, yang merupakan sandang komunitas elite pada saat itu. Pesta pora merupakan kegiatan keseharian bagi orang kaya itu. Sebaliknya, Lazarus “berpakaian” borok dan hanya ingin menghilangkan laprnya dengan remah-remah makanan yang jatuh dari meja orang kaya. Kata “pintu” rumah orang kaya membuat pembaca membayangkan puri atau vila orang-orang kaya yang dibatasi dengan pagar yang tinggi dan indah. Kata ini juga menyiratkan ada suatu “penghalang” yang mencegah Lazarus untuk mendekati meja-meja perjamuan. Namun, remah-remah yang jatuh dari meja orang kaya merupakan satu-satunya pengharapan bagi Lazarus untuk mempertahankan hidupnya. Sesungguhnya, demi mempertahankan hidup, orang miskin tidak pernah mengharapkan terlalu banyak dari orang kaya, hanya sekedar “remah-remah” yang terbuang. Tindakan orang kaya tidak membuka pintu rumahnya untuk Lazarus, bahkan menyuruh anjingnya untuk menjilat boroknya adalah sebuah praktik “dehumanisasi” yang teramat parah. 

Luk 16:22-31 mengisahkan tentang kematian dan kehidupan setelah kematian. Orang Yahudi meyakini bahwa setelah kematian manusia akan turun ke tempat penantian (sheol), namun sheol ternyata terdiri dari lapisan-lapisan. Pertama, dikenal pangkuan Abraham. Istilah ini tampaknya sudah amat dikenal oleh para pendengar sabda Yesus. Abraham adalah Bapa leluhur bangsa Israel, dan orang Yahudi yakin bahwa nanti keturunan-keturunan Abraham akan berada bersama Abraham dan kebahagiaan kekal. Dalam tradisi Yahudi (Talmud) dijelaskan bahwa pangkuan Abraham adalah tempat di mana orang-orang benar pergi setelah kematian. Setelah mati, Lazarus dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Sebaliknya, orang kaya yang mati berada di lapisan lain dalam dunia orang mati Yahudi: neraka jahanam. Orang kaya masuk ke dalam neraka bukan karena dia kaya semasa hidup di dunia, melainkan karena dia menganggap kekayaan sebagai allahnya serta mengabaikan kebutuhan sesamanya. 

Lazarus di Pangkuan Abraham

Orang kaya itu memanggil Abraham sebagai “Bapa” dan memang dijawab oleh Abraham dengan sapaan “Anak”. Namun, panggilan mesra ini tidak dapat menolong orang kaya itu. Hal ini mengingatkan pembaca teks ini kepada pernyataan Yohanes Pembaptis dalam Luk 3:8, “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” Rupanya kekayaan seseorang tidak menjamin keselamatan jiwanya. Kekayaan hanya bermanfaat untuk keselamatan jiwa sepanjang kekayaan itu menjadi berkat bagi sesama yang membutuhkan. Sesama yang membutuhkan adalah gambar dan rupa Allah (imago Dei).

Kemiskinan selalu menjadi bagian dalam kehidupan di dunia ini. Kitab Suci mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menanggapi kemiskinan di sekitar kita. Kisah Lazarus dan orang kaya memberikan pelajaran bagaimana Gereja dan masyarakat harus bertindak untuk mengurangi penderitaan orang-orang miskin. Apatisme atau sikap acuh tak acuh terhadap orang-orang miskin adalah dosa. Dehumanisasi adalah perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Kita harus peduli kepada mereka yang membutuhkan. Dengan memahami kisah ini sebagai pelajaran yang berharga, diharapkan kita mampu memberikan wajah dan senyum yang lebih manusiawi kepada orang-orang miskin. Renungan ini diakhiri dengan sebuah kutipan dari Yak 2:5, “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”?